Menu

Dark Mode
Setelah Serah Terima, Pemilik Bagikan Pengalaman Pertama Menggunakan Jetour T2 Jangan Tanya Detail Kematian Saat Orang Sedang Berduka, Ini Saran Psikolog Risiko Indonesia Jika Kolaborasi Drone dengan Iran Lima Orang dengan Gelar Terbanyak di Dunia, Rajin Belajar! Polres Tulungagung Gelar Upacara Sertijab, Rotasi Sejumlah Pejabat Utama Selamat Dan Sukses Hari Ulang Tahun ke-19 SMKN I Pagerwojo 

POLITIK

Risiko Indonesia Jika Kolaborasi Drone dengan Iran

badge-check


					Risiko Indonesia Jika Kolaborasi Drone dengan Iran Perbesar

TEHERAN — Iran menawarkan kerja sama dalam pengembangan pesawat tanpa pilot (drone)kepada Indonesia. Penawaran tersebut tergolong cukup menarik, mengingat teknologidroneTeheran yang telah terbukti kemampuannya.

Pesawat tanpa awak dari negara Mullah telah menjadi ancaman yang menakutkan bagi Israel. Namun bukan hanya digunakan untuk kebutuhan militer tetapi jugadrone buat kebutuhan sipil.

Iran memiliki berbagai jenis pesawat tanpa awak, seperti Shared, Moajer, Arash, Kaman hingga Karra. Qoads Aviation Industries adalah perusahaan yang saat ini sedang mengembangkan pesawat tanpa awak negara tersebut.

Salah satu keunggulan drone Iran adalah kemampuan mereka dalam memproduksi pesawat tanpa awak dengan biaya yang relatif rendah. Menurut sebuah laporan, biaya produksi drone Iran berkisar antara 35.000 hingga 40.000 dolar AS per unit, sementara produsen Amerika Serikat menetapkan harga sekitar 41 juta dolar AS untuk model yang serupa.

Jika Indonesia ingin menerima pengembangan drone dari Iran, maka Jakarta bukan negara pertama yang memproduksi pesawat tanpa awak tersebut. Pada 17 Mei 2022, Iran meresmikan pabrik.dronedi negara tetangga, Tajikistan. Pabrik tersebut secara resmi merupakan tempat pengolahan produksidronepertama Iran di luar negeri.

Hanya saja perlu diakui, jika dibandingkan dengan negara lain seperti Turki yang juga memiliki kemampuan serupa dalam pengembangan drone, kerja sama antara RI dan Iran akan lebih rumit.

Ini mengingatkan bahwa Iran telah menjadi target negara-negara Barat, khususnya terkait pengembangan senjata yang dianggap sebagai ancaman. Iran selama ini merupakan salah satu pemasok utama drone bagi Rusia.

Ahli Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI) Agung Nurwijoyo mengakui bahwa kerja sama dengan Iran dalam pengembangan teknologi drone memang memiliki risiko. Agung menilai kemungkinan adanya tekanan dari negara lain sangat mungkin terjadi, meskipun tidak selalu terlihat jelas.

“Potensi adanya tekanan tentu ada dan sangat mungkin, meskipun tidak selalu terlihat secara langsung dan terang-terangan. Tekanan datang dalam lapisan-lapisan. Kita mungkin tidak akan dianggap sebagai musuh, tetapi ada penilaian ulang terhadap tingkat kepercayaan strategis,” katanya kepada .

Ia mengatakan tekanan bisa meningkat secara signifikan jika kerja sama tersebutdronehal itu berkaitan langsung dengan pertahanan dan konflik di kawasan Timur Tengah. Oleh karena itu, ia menilai penting bagi Indonesia untuk menegaskan kerangka kerja sama.

“Menurut saya, tekanan akan meningkat secara signifikan jika drone terkait langsung dengan pertahanan atau militer serta konflik di kawasan Timur Tengah. Tentu, poin terakhir ini tidak dalam arti terlibat secara militer, tetapi narasi dan persepsi yang memudahkan penerimaan teknologi konflik,” katanya.

Oleh karena itu, katanya, penting untuk menyusun sebuah desain kebijakan yang menegaskan dan berfokus pada ekonomi.

Agung berpendapat bahwa pemerintah Indonesia pasti akan mempertimbangkan dampak diplomatiknya. Ia percaya bahwa Presiden Prabowo menyadari pengaruhnya terhadap situasi geopolitik jika mengembangkan kerja sama teknologi drone dengan Iran.

“Kami yang tidak ingin kehilangan Barat sebagai mitra, serta hubungan strategis kami dengan negara-negara di Global South. Jadi, ini sebenarnya bukan hanya tentang kemampuan atau tidaknya, tetapi sejauh mana desain politik dan kebijakan luar negeri Indonesia terstruktur,” katanya.

Dikutip dari laman Kemendag, total perdagangan Indonesia – Iran mencapai 206,9 juta dolar AS dengan tren penurunan sebesar 19,31% dalam lima tahun terakhir. Produk Impor Non Migas Utama Indonesia dari Iran (dalam juta dolar AS): 1)Dates (5.0); 2) Petroleum Coke (3.0); 3) Alkaloid, baik yang alami maupun yang dihasilkan melalui sintesis (1.4); 4) Grapes, fresh or dried (0.9); 5) Alat dan perangkat yang digunakan dalam bidang medis(0.5). Selanjutnya, terdapat 73 proyek investasi dari Iran di Indonesia dengan besaran sebesar USD 0,9 juta

Duta Besar Republik Islam Iran di Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyatakan bahwa Teheran sedang berupaya memperkuat kerja sama dengan Indonesia dalam bidang teknologi terbaru. “Saat ini kami sedang berupaya mengembangkan kerja sama antara perusahaan Iran dan Indonesia,” ujar Dubes Boroujerdi dalam wawancara khusus di Jakarta, Sabtu (14/2/2026)

Boroujerdi mengatakan, Iran adalah salah satu negara yang sangat berkembang di dunia dalam bidang teknologi terbaru. Iran juga dinilai sangat unggul dalam nanoteknologi, bioteknologi, nuklir, teknologi damai, teknologi kesehatan, produksi alat kesehatan, teknologi pertanian, serta teknologi baru lainnya di sektor tersebut.

Indonesia dianggap memiliki minat untuk menjalin kerja sama dalam bidang tersebut. Boroujerdi mengatakan, saat ini Iran sudah memiliki hubungan yang kuat dengan berbagai lembaga dan instansi pemerintah RI dalam hal pertukaran teknologi, serta dalam bidang lain seperti drone.

“Ketika membicarakan drone, umumnya orang hanya menganggap fungsinya terbatas pada satu tujuan, padahal sebenarnya tidak demikian. Anda mungkin tidak menyadari bahwa ada banyak sekali cara damai dalam memanfaatkan drone di bidang pertanian serta sektor ekonomi lainnya,” ujarnya.

Ia menyatakan, Iran sedang berupaya untuk membangun kerja sama antara perusahaan dari kedua negara, dan pembicaraan akan dilakukan melalui webinar. Perwakilan dari Iran bahkan akan datang ke Indonesia atau melakukan perjalanan ke Iran guna membahas hal tersebut.

Jika perusahaan-perusahaan Indonesia tertarik untuk berkolaborasi dalam bidang tersebut, Kedutaan Besar Iran di Jakarta bersedia menjadi perantara hubungan antara kedua belah pihak agar kerja sama tersebut dapat terwujud.

Dorongan kerja sama tersebut merupakan bagian dari peran Iran sebagai mitra strategis Indonesia dalam bidang yang relevan. Boroujerdi menambahkan, Iran adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang mengembangkan teknologinya secara mandiri di dalam negeri.

Belum ada tanggapan dari pemerintah Republik Indonesia mengenai penawaran tersebut. Sebelumnya, Indonesia telah menjalin kerja sama dalam pengembangan pesawat tak berawak dengan Turki.

Pada bulan Februari 2025, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan hadir dalam acara penandatanganan serta pertukaran memorandum of understanding (MoU) antara pemerintah Indonesia dan Turki.

Satu dari ketentuan yang disepakati adalah Perjanjian kemitraan antara Republikorp dan Baykar dalam pembangunan pabrik drone di Indonesia.

Pada tahun yang sama, Indonesia juga mulai menerima pesawat tempur tanpa awak Anka-S dari Turkish Aerospace Industries.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *